Jumat, 20 Juli 2012

Kanker ovarium

Kanker ovarium

Kanker ovarium biasa disebut juga sillent killer, karena biasanya sering tanpa gejala pada awalnya sehingga sulit ditemukan, membuat diagnosis tertunda. Ketika kanker berkembang dan timbul gejala, sering kali sudah bukan stadium dini. Penyebab kanker ovarium hingga kini belum jelas, tapi faktor lingkungan dan hormonal berperan penting dalam keganansannya. Pemeriksaan USG, CT dan MRI merupakan cara diagnosis utama namun sayangnya belum ada metode deteksi dini yang akurat.

Kanker ini dapat menjadi tumor ganas apabila terjadi kumpulan tumor dengan sifat biologis yang beraneka ragam. Pertumbuhan tumor diikuti dengan infiltrasi ke jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan seperti perasaan sebah, makan sedikit terasa kenyang dan nafsu makan menurun, sering kembung, sering kencing, haid tidak teratur, dapat timbul perdarahan. Tumor epitelial adalah tumor ovarium yang paling sering ditemukan baik pada perempuan hamil maupun yang tidak hamil.

Ada banyak faktor penyebab terjadinya kanker ovarium. Seperti faktor makanan, dimana makanan yang banyak mengandung lemak hewan meningkatkan resiko akan menderita kanker tersebut.

Kemudian, faktor bahan industri, karena wanita yang bekerja di dekat asbes atau yang menggunakan bedak pada pembalut wanitanya sebagai pengering juga meningkatkan resiko.  

Infeski virus juga dianggap faktor terjadinya kanker,  namun masih diperdebatkan. Selain itu, faktor lambatnya menopause, panjangnya usia subur, banyaknya jumlah abortus spontan dan adanya gejala premenstruasi yang berat, dan faktor hormonal juga meningkatkan  resiko terkena kanker ovarium.

Dan faktor genetik, karena kebanyakan wanita penderita kanker rahim, riwayat keluarganya juga ada yang penderita kanker tersebut. Namun, menurut penelitian wanita yang mempunyai banyak anak, hamil, menyusui, dan menggunakan pil kontrasepsi justru akan menurunkan resiko terkena kanker ovarium.

Prinsip terapi kanker ovarium adalah operasi sebagai dasar dari terapi kombinasi operasi dan kemoterapi, namun pada perempuan hamil hal ini perlu perhatian dan konsultasi lebih lanjut dengan melihat usia kehamilan dan sejarah kanker.

0 komentar:

Posting Komentar